Menu Close

Diagnosis dan Perawatan Farizol Untuk Vaginitis

Vaginitis adalah peradangan vagina yang disebabkan karena infeksi. Vaginitis biasanya akan menyebabkan gejala seperti cairan tidak normal, sensasi gatal dan terbakar, dan adanya rasa nyeri di daerah kewanitaan. Vagina adalah saluran berotot yang bermula dari serviks ke bagian luar tubuh, dilapisi oleh selaput lendir. Vagina memiliki panjang rata-rata 6-7 inci. Vaginitis merupakan sebuah kondisi yang cukup lazim dijumpai. Dalam banyak kasus, vaginitis dapat diobati menggunakan Farizol. Kebanyakan wanita akan mengalami vaginitis setidaknya satu kali dalam hidup mereka. 

Minum Farizol apabila Anda memiliki tanda dan gejala vaginitis. Gejala vaginitis yang paling sering dijumpai di antaranya adalah iritasi di daerah kemaluan, keluarnya cairan berwarna putih atau abu-abu dan berbusa, peradangan daerah kewanitaan, dysuria (rasa nyeri pada saat buang air kecil), nyeri saat melakukan hubungan seksual, dan bau vagina yang amis dan tidak sedap. Untuk melakukan diagnosis vaginitis, dokter akan melakukan beberapa tindakan berikut ini. 

  • Meninjau riwayat medis. Hal ini meliputi riwayat infeksi menular seksual atau infeksi vagina yang pernah Anda miliki sebelumnya. 
  • Melakukan pemeriksaan panggul. Pada saat pemeriksaan panggul, dokter dapat menggunakan sebuah alat yang disebut speculum untuk melihat bagian dalam vagina guna memeriksa apakah ada peradangan atau cairan tidak normal. 
  • Mengambil sampel untuk pengujian laboratorium. Dokter dapat mengambil sampel cairan vagina atau serviks untuk diperiksa di laboratorium untuk mengonfirmasi jenis vaginitis apa yang Anda miliki. 
  • Melakukan pemeriksaan pH. Dokter dapat melakukan tes pH vagina dengan menggunakan pH test stick atau kertas pH di dinding vagina. pH yang naik dapat mengindikasikan apakah vaginitis yang dimiliki merupakan bacteria vaginosisi atau trichomoniasis. Akan tetapi, pemeriksaan pH sajat bukan tes diagnosis yang dapat diandalkan. 

Beragam organisme dan kondisi dapat menyebabkan vaginitis,  sehingga perawatan akan menarget penyebab spesifik. 

  • Bacterial vaginosis. Untuk vaginitis jenis ini, dokter dapat meresepkan tablet metronidazole yang perlu diminum atau gel metronidazole atau krim clindamycin yang perlu dioleskan pada vagina. Anda perlu mendapatkan tes terlebih dahulu dan dokter akan memberikan resep untuk obat-obatan tersebut. 
  • Infeksi jamur. Infeksi jamur biasanya akan diobati menggunakan krim anti jamur OTC seperti micronazole, clotrimazole, atau tioconazole. Infeksi jamur juga dapat diobati menggunakan obat antijamur oral resep seprti fluconazole. Manfaat dari perawatan OTC adalah kemudahan dan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan perawatan dari dokter. Namun, ada kemungkinan Anda memiliki kondisi lain selain infeksi jamur. Menggunakan obat yang tidak tepat dapat menunda diagnosis yang akurat dan perawatan yang tepat. 
  • Trichomoniasis. Dokter dapat meresepkan tablet metronidazole atau tinidazole. 
  • Vaginal atrophy. Estrogen, dalam bentuk krim vagina atau tablet, dapat dengan efektif mengatasi kondisi ini. Perawatan ini tersedia lewat resep dari dokter, setelah faktor risiko lain dan kemungkinan komplikasi ditinjau. 
  • Vaginitis tidak menular. Guna merawat vaginitis jenis ini, Anda perlu mengetahui sumber iritasi dan menghindarinya. Beberapa sumber iritasi di antaranya adalah sabun baru, detergen baju, tampon, dan pembalut. 

Selain beberapa perawatan di atas, kebanyakan kasus vaginitis juga dapat diatasi menggunakan Farizol. Dalam kasus ringan, infeksi jamur juga bisa diatasi secara alami, seperti menggunakan kompres dingin. Gunakan sapu tangan yang telah dibasahi air dingin pada daerah labial untuk mengatasi rasa tidak nyaman hingga obat-obatan antijamur yang sedang dikonsumsi memberikan efek sepenuhnya. Kunjungi dokter apabila vaginitis yang diderita tidak kunjung membaik atau bertambah lebih parah meskipun telah mendapatkan perawatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *